
Sebuah film karya Djenar Maesa Ayu yang diproduksi pada tahun 2007 diangkat dari novel Djenar dengan judul yang sama, Djenar dengan beberapa karyanya adalah seorang penulis yang suka sekali mengangkat tema tentang sex, tentu saja, kritik ini bukan ditujukan kepada Djenar tapi kepada film pertama yang diangkat dari novelnya ini “Mereka bilang saya monyet”, Film in diangkat mengingat novelnya cukup popular dan tentu saja kontroversial novel “mereka bilang sya monyet” telah cetak ulang 8 kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain itu juga akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. film “Mereka bilang saya monyet “ mengisahkan tentang seorang wanita bernama Adjeng yang diperankan dengan baik oleh Titi sjuman. Seorang penulis yang tinggal di Jakarta, kenapa saya bisa menyebut kota Jakarta padahal di Film juga tidak disebutkan Adjeng tinggal di Jakarta, karena kota ini adalah kota metropolitan yang menghalalkan segala cara. Adjeng berusaha menembus pasar dengan segala cara, sampai harus “tidur” dengan beberapa orang termasuk seorang penulis professional yang cukup miskin, di satu sisi ia sangat takut dan bisa jadi sangat penurut dengan ibunya yang diperankan oleh Henidar amroe, di sisi lain, ia bisa sangat beringas dan agresif dalam menghadapi kehidupan. Didukung oleh masa lalunya yang cukup kelam. Film ini bisa dibilang sukses untuk mengetengahkan tentang kehidupan kelam di Jakarta dengan berbagai lifestyle yang sangat mencerminkan gaya hidup saat ini, sex , gaya hidup bebas dan mewah, Djenar sebagai sutradara juga benar-benar memilih semiotika yang bagus untuk mencerminkan sesuatu .
Seperti ketika ia memilih memakai lintah dan semburan darah untuk mencerminkan keperawanan dari Adjeng ketika kecil telah direnggut oleh pacar ibunya. Dan ular merah untuk menggambarkan penis lelaki yang menjadi pacar simpanan ibunya, dan binatang-binatang lainnya untuk mencerminkan sifat asli manusia yang sebetulnya masih dan semakin mirip dengan binatang dari hari ke hari. Adjeng sendiri disebutkan oleh dirinya sebagai monyet yang merasa derajat dirinya lebih tinggi dari beberapa hewan lain, karena mendekati manusia, tapi tetaplah ia menggambarkan dirinya sebagai binatang karena belum sepenuhnya menjadi manusia. Film dengan durasi kurang lebih 2 jam ini tidak terasa membosankan karena dibintangi dengan bintang film Indonesia yang cukup kawakan sebut saja Ray Sahetapy, Jajang C. Noer , Bucek Depp dan beberapa actor/aktris lainnya.
Ada beberapa hal yang masih susah ditangkap dari film ini, sebenarnya apa intinya dari film ini? Apakah menunjukkan bahwa dunia ini kejam dengan banyak hal-hal gelap diluar sana? Ataukah ingin menunjukkan bahwa kita sebagai wanita Indonesia haruslah lebih berjuang dalam hidup dan tidak menghalalkan segala cara? Karena dalam film ini Adjeng bisa jadi mempunyai sifat yang cukup murahan sedangkan ia menganggap dirinya modern, dengan sex bebas, alkohol, rokok dan dunia malam. Ataukah memang wanita di Indonesia sudah banyak yang seperti itu? Tentu saja mengingat kata-kata Marcelli Soemarno dalam bukunya dasar-dasar apresiasi film mengatakan bahwa film dibuat berdasarkan kedaan masyarakat.Jadi, apakah moralitas di Indonesia benar-benar sudah seperti ini? Apabila Djenar ingin menceritakan tentang realitas yang memprihatinkan mengenai tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, disertai minimnya edukasi masyarakat terhadap hak asasi manusia yang sebenarnya dimiliki secara individu, jelas masyarakat awam sangat tidak menangkap esensi yang seperti itu, esensinya masih susah ditangkap untuk masyarakat awam, harus menonton lebih dari satu kali dan alurnya cukup membingungkan, tentu tidak mengecilkan kemungkinan ada juga sih di Indonesia yang bisa menangkap esensi film ini untuk sekali menonton, tetapi ada baiknya ketika film seperti ini ditayangkan untuk kalangan terbatas saja, seperti halnya film-film festival, dan diberi panduan umur untuk yang menonton. Apabila yang menonton adalah anak-anak dan remaja , yang mereka tangkap ketika pertama kali menonton adalah banyaknya hal-hal yang sangat mencerminkan tentang hidup bebas jauh dari norma-norma yang seharusnya berlaku di Indonesia.
Masyarakat Indonesia senang sekali dengan hal-hal yang berbau kontroversi, tentu saja selera pasar sangat mendukung, tetapi ada baiknya apabila pihak media atau entertainment tidak melulu mengangkat hal-hal yang berbau sex dan kontroversi, masih banyak hal lain yang bisa diangkat menjadi film yang menggambarkan tentang Indonesia. Film ini bisa dibilang cukup menarik karena didukung oleh pengambilan gambar yang bagus, beberapa hal yang digambarkan dengan cukup estetik tidak terlalu vulgar, pemain-pemain yang jelas sangat menghayati perannya, dan dengan alur cerita yang maju-mundur untuk menggambarkan sisi gelap masa lalu Adjeng. Cukup tidak biasa untuk sebuah film, dan cukup berat untuk esensi ceritanya sendiri, tidak salah apabila film ini menerima tujuh nominasi pada ajang Festival Film Indonesia 2008, memenangkan empat kategori, termasuk Aktris Terbaik untuk Titi Sjuman. Tetapi tetap ada kebanggan tersendiri pada film-film Indonesia yang semakin banyak diproduksi dari tahun ke tahun dan dengan berbagai macam tema dan semoga kualitas film Indonesia tidak semakin menurun dan terus menurun. Maju terus film Indonesia!
No comments:
Post a Comment