Tuesday, November 2, 2010

drama jawa

Seorang wanita dengan kebaya dan jarik berwarna coklat, sedang duduk merenung di jendela, matanya nyalang melihat keluar, pikirannya tak tentu arah.

Ia adalah seorang wanita Jawa yang menikah dengan seorang anak pejabat, pernikahannya sudah seperempat abad, sudah cukup lama waktu yang ia habiskan bersama dengan laki-laki yang saat ini menjadi suaminya, sebut saja Kusno. Pak Kusno adalah seorang yang sangat disegani oleh masyarakat. Banyak orang yang kagum padanya, karena ia seorang lelaki yang sukses dan sanggup menjadikan anak-anaknya menjadi "orang" di masyarakat juga, tapi Ratri istrinya tidak berpendapat demikian. Ia banyak meneteskan air mata dan tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata atas apa yang sudah diperbuat suaminya.

Suatu hari, Ratri sedang bercanda tawa bersama para pembantu dirumahnya, tiba-tiba Kusno datang bersama dengan seorang anak lelaki, Ratri sudah banyak mendengar tentang sepak terjang suaminya diluar sana, yang dibicarakan oleh orang-orang terdekat suaminya, terutama oleh Mantri, sopir pribadi Kusno.
"Bapak niku sering mampir in omahe, sinten nggih, kulo mboten sumerap naminipun, usianya sekitar lebih muda dari ibu, dan rambutnya panjang"
Ratri tidak percaya dengan semua omongan orang, sampai akhirnya kebenaran itu tiba, dan ia tidak siap, ia tidak pernah siap.
"Ini anakku, tolong perlakukan dia seperti anakmu juga" kata Kusno sambil menggandeng seorang anak lelaki.
"Anak sampeyan pak?dari siapa?" kata Ratri dengan nada yang sedikit tinggi.
"Dari Bella, sekertarisku."
Ratri shock , ia tidak menyangka pernikahannya akan berubah menjadi mimpi buruk, ia ingin mundur tapi ia tidak sanggup menahan malu akan aib keluarga, ia tidak ingin orang lain menilai buruk akan pernikahannya, ia tidak ingin dicap gagal, ia tidak ingin anak-anaknya menjadi terpuruk juga.Ia memutuskan untuk bertahan.

Hari demi hari, kehidupan Ratri menjadi semakin buruk, terror demi terror harus ia jalani seorang diri, ia tidak ingin anak-anaknya tau tentang keburukan ayahnya, ia menutupi itu semua, seorang diri. Teror dari para wanita itu semakin menjadi-jadi, ternyata tidak hanya 1 orang, tapi ada beberapa orang lain yang juga menjadi simpanan suaminya, mereka menuntut, mereka merusak dan mereka mengutuk Ratri. Ratri tetap bertahan.

Sampai suatu ketika, pertahanannya goyah, semua rasa yang ia pendam selama bertahun-tahun berbalik menyerang dirinya, anak-anaknya tau tentang semua keburukan itu, mereka tidak pernah membenci ayahnya tapi mereka menyesali kenapa ibunya mau bertahan dengan seseorang yang jelas-jelas menyakiti. Ratri tidak banyak berkomentar, yang ia yakini adalah bahwa ia mencintai suaminya seumur hidup, dan ia akan mempertahankan apa yang menjadi miliknya sampai titik darah penghabisan.

Wanita-wanita laknat diluar sana gencar memaki dan mengutuk Ratri, menyuruhnya untuk segera melepaskan Kusno, tapi Ratri tetap kokoh bagai tiang besi, dan akhirnya sakit hati yang ia rasakan menjadi boomerang tajam bagi tubuhnya, tubuhnya tidak lagi kuat untuk menanggung semua rasa sesak dan sakit secara psikologis yang ia rasakan, ia terkena stroke dan menyebabkan Ratri lumpuh. Kusno semakin jarang dirumah dan Ratri hanya bisa menunggunya pulang sambil menatap keluar jendela, setiap hari ,sepanjang tahun dan selamanya.

No comments:

Post a Comment